Jejak 1: Dua lembar Kertas Usang dan Mimpi

Masih teringat jelas bagaimana aku menuliskan kalimat-kalimat itu pada dua lembar kertas buram setelah tiba di kamar asrama Tingkat Persiapan Bersama di IPB sore itu. Baru saja  DKM Al Hurriyah usai menyelenggarakan acara Achievement Motivation Trainer (AMT) dengan menghadirkan seorang pembicara yang sangat luar biasa, Ustadz Aris Ahmad Jaya. Sosok yang di kemudian hari banyak menginspirasiku mencapai hal-hal menakjubkan yang semula hanya terlintas di mimpi belaka.Untuk kesekian kalinya aku dibuat begitu takjub dengan penampilan dan materi motivasi yang diberikannya.  

“Banyak orang yang memiliki mimpi, namun mimpinya itu akhirnya tetap menjadi impian dan khayalan belaka. Alasannya adalah karena mereka menuliskan mimpi-mimpi mereka di dalam ingatan saja. Padahal ingatan manusia itu terbatas. Akibatnya kebanyakan dari mereka itu lupa dengan mimpinya. Dan ketika ingat kembali, waktu mereka telah habis. Dan hanya penyesalan yang dirasa.” 

Demikian kurang lebih kata-kata yang beliau sampaikan sebagai pembuka materi beriringan dengan tampilan slide di layar dan backsound yang sangat menawan. Kemudian dengan setengah menghentak beliau berteriak! 

“Ubah! Ubah cara pandang anda! Ubah bagaimana anda menuliskan mimpi-mimpi anda. Jangan tulis dalam ingatan anda yang terbatas, karena hal itu ibarat anda menulis di atas pasir. Ketika angin bertiup, hilanglah tulisan itu. Tuliskan secara nyata. Di atas kertas. Tuliskan mimpi-mimpi anda di atasnya. Tempatkan dimana anda akan sering melihatnya. Jika anda ragu… tulis saja 100 target yang ingin anda capai selama di IPB!” 

Alunan backsound dari speaker yang memainkan musik instrumental gubahan komponis terkenal Jepang, Kitaro berjudul Koi itu seolah turut menyihir kata-kata yang beliau ucapkan hingga mampu merasuk ke dalam dada setiap peserta yang hadir. Masing-masing peserta seolah tersihir oleh suasana. Semuanya khusyuk mendengarkan kata demi kata dari Sang Trainer, termasuk diriku yang dengan serius mencatat kata-kata tersebut dalam buku catatan. 

“…dan nanti anda akan lihat. Bagaimana luar biasanya Allah mewujudkan setiap mimpi-mimpi itu, jauh lebih luar biasa daripada yang bisa anda bayangkan… tuliskan segera, dan suatu hari yang akan anda lihat dari tulisan anda itu hanyalah coretan-coretan. Coretan karena anda telah mencapainya…” 

Dan itulah yang aku lakukan. Di atas dua lembar kertas buram itulah aku menuliskannya. 100 target. Target-target sederhana hingga impian-impianku, tanpa banyak berpikir rumit, aku benar-benar menuliskan apa yang terlintas di pikiranku saat itu, seperti yang Ustadz Aris katakan waktu itu. Dan jadilah, 100 target itu. Aku tempel di pintu lemari bajuku hingga setiap saat aku bisa melihatnya. Ada kepuasan tersendiri ketika melihatnya. Namun tak sedikit juga yang berkomentar setiap kali melihat target-target yang tertulis di sana.

Buat apa Nang kamu nulis repot-repot begitu”. “Sombong banget sih lo…” atau bahkan dengan nada meremehkan “Udah Nang, ini mah bukan lagi zamannya untuk bermimpi. Realistis sedikitlah

Setelah begitu banyak komentar, akhirnya aku melepas dua lembar kertas itu dan memindahkannya di atas tempat tidurku hingga setiap akan tidur atau bangun pagi aku bisa melihatnya. Setidaknya komentar-komentar itu tak lagi terdengar setelah itu.Aku baru benar-benar menyadari bahwa dua lembar kertas itu kini sudah begitu usangnya… usang oleh berbagai macam coretan-coretan di atasnya, dan usang oleh keringat di tanganku setiap kali memegangnya.

Tapi yang pasti… kini setiap aku melihatnya kembali yang bisa aku katakan adalah: “Subhanallah…Luar biasa…”Apa yang aku tuliskan di atas dua lembar kertas itu, yang dahulu begitu banyak orang yang mencemooh dan meremehkannya… kini… satu persatu tanpa aku sadari benar-benar terwujud. Dan benar… seberapapun luar biasanya rencana dan kalimat yang kutuliskan di atasnya… rencana Allah jauh lebih luar biasa, persis seperti yang dikatakan Ustadz Aris waktu itu.

Mahasiswa Berprestasi.. Meski awalnya hanya aku tuliskan setelah mendengar cerita Mas Anuraga Jayanegara, dan terinspirasi dari majalah-majalah mahasiswa.Ternyata… tak aku sangka aku akan bisa mencapainya, bahkan hingga tingkat nasional dan menjadi yang terbaik dari yang terbaik. Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) yang begitu bergengsi dan MTQ Mahasiswa Nasional… tak aku sangka aku bisa ke sana dengan cara-cara luar biasa dan tak terkira, padahal mulanya semua itu terinspirasi dari penuturan penuturan kakak tingkat atau teman-teman di kampus.

Setiap kali mengingat semua itu, sepenggal lirik Nasyid dari Justice Voice yang terinspirasi dari surat Ar Rahman terdengar begitu nyaring di kepalaku ”…Nikmat yang manakah lagi yang akan kau dustai, setelah begitu banyak nikmat yang Ia beri…Dan kini ketika menatap dua lembar kertas usang yang hampir tercerai berai itu… delapanpuluhtiga. Ya… target nomor 83 bertuliskan “Aku ingin melanjutkan sekolah keluar negeri setelah tamat IPB!”Tapi tahukah apa yang terjadi?…semuanya seolah terulang kembali… seberapapun luar biasanya rencana yang kita buat… rencana Allah jauh lebih luar biasa…  

***

Burung besi kebanggaan bangsa itu akhirnya mendarat di Narita International Airport. Sambil menunggu pilot selesai memarkirkan Sang Garuda, negeri para Samurai dulu itu terlihat begitu dingin dari jendela pesawat yang basah oleh air hujan. Mungkin musim gugur telah hadir di bulan ini seperti yang aku baca di internet sebelumnya.

Dikejauhan perlahan tampak tulisan berwarna merah menyala. Yokoso Japan. Yang di kemudian hari aku ketahui artinya sebagai: “Selamat Datang di Jepang”. Kututup buku catatan dan dua lembar kertas usang bertuliskan 100 targetku dengan coretan-coretannya itu… air mata ini menetes dengan perihnya dan panasnya mata. “Nikmat yang manakah lagi yang akan kau dustasi?” Nang… hanya tarikan nafas panjang yang bisa aku lakukan…

Seolah suara merdu Celine Dion dalam video motivasi tentang para peserta paralympic, olimpiade bagi orang-orang yang cacat namun mampu mengukir sejarah itu, yang diputar Ustadz Aris 2 tahun lalu itu terdengar kembali… Realize the Power of The Dreams… ternyata Allah membukakan jalan bagiku ke Jepang… sebelum tamat dari IPB…Dan dimulailah jejak-jejak itu…

 Yokoso Japan… Narita Airport, 2 Oktober 2007 

(Inspired from my Life Journal 2005-2007)

 

Langkah Pertama : Perkenalkan Namaku…

Danang Ambar Prabowo… begitulah orang tuaku menamaiku 23 tahun lalu. Sewaktu kecil banyak yang ketawa ketika mendengar kata Ambar berada pada nama tengahku.“Iih namanya kayak cewek…” ujar mereka sambil ketawa.Apalagi waktu itu di kelas ada perempuan yang bernama Ambarwati… lengkap sudah namaku diplesetin habis-habisan. Jika sudah demikian yang bisa aku lakukan hanyalah diam atau kabur sambil sesenggukan.

Mulanya aku membenci nama itu, hingga bertahun-tahun kemudian Bapak menceritakan kronologis pemberian nama “Ambar” itu. Waktu itu beliau tengah melakukan penelitian di Ambarawa untuk tugas akhirnya di UGM, sementara ibu yang tengah mengandung diriku berada di Bantul, kota yang tekenal setelah gempa di Jogja. Ketika aku lahir ternyata Bapak masih di Ambarawa. Makanya dinamakan Ambar untuk mengenang masa-masa waktu itu. Ya itulah alasan beliau.

“Kalau kamu ngerasain gimana Bapak waktu itu… wuih, namamu itu penuh sejarah Nang.” Ujar beliau. Wah, bangganya aku, namaku diabadikan sebagai sejarah hidupnya.Namun, bagiku penjelasan beliau itu belum cukup.“Nanti kamu akan tahu sendiri artinya. Itu adalah do’a dan harapan kami padamu” tambahnya kemudian.

Dan… akupun memakluminya. Wajar waktu itu aku masih duduk di bangku kelas 3 SD. Namun suatu saat harus aku temukan makna namaku.Menit berlalu berganti jam, kemudian berganti hari, dan berbulan-bulan hingga bertahun-tahun bergulir membawa perubahan dalam diri, jasad dan ruhiyah. Melupakan hal yang dulu ingin aku temukan. Arti dari namaku.

Hingga suatu hari, ketika lewat di depan sekumpulan ibu-ibu yang tengah ramai mengerubuti seorang sosok mungil dalam hangatnya pelukan ibunya, aku tak sengaja mendengar celetukan:“…nama anaknya siapa?… artinya apa, Bu?…” Aku sempat menoleh sebentar hingga mendengar.“…wah, nama seorang anak itu kan do’a dan harapan ibu bapaknya…”

Langsung waktu itu mencari warnet terdekat, dan langsung browsing. Mencari kata-kata yang bisa aku jadikan petunjuk untuk menemukan arti namaku. Dan… akhirnya setelah beberapa jam nongkrong di depan komputer dan membanding-bandingkan arti kata-kata dari berbagai situs akhirnya sodara-sodara… aku menemukan arti dari namaku… kurang lebih demikian… horeee.

Danang kurang lebih berarti laki-laki. Ambar, selain makna yang diceritakan Bapak sebelumnya , bisa juga berarti keharuman. Lho-lho lelaki yang harum? Pendekar Harum maksudnya? (Bentar dulu sebelum komentar, mending baca hingga selesai. )Dan kata Prabowo berasal dari dua suku kata: Pra yang berarti sebelum dan Bowo yang berarti membawa. Jadilah kalau aku artikan semuanya… jadinya: Seorang laki-laki yang akan membawa keharuman. Wuis manteB (diakhiri dengan huruf B besar sebagai penekanan makna) betul!!! Meminjam ungkapan yang sering digunakan seorang sahabat nun jauh di Okinawa sana… “wuis… mamen!” Ternyata itu tho…do’a dan harapan ibu dan bapakku untukku.

Semenjak itu, aku berkeyakinan, aku harus mewujudkan do’a dan harapan itu. Meski masih saja ada yang memplesetkan namaku dengan menambahkan huruf “H” di depan kata Ambar atau lebih parah lagi dengan menyamakannya dengan lagu Ampar-Ampar Pisang…(hayo jangan ketawa… awas…)… aku gak peduli. Yang penting aku telah mengetahui makna namaku. Oke dunia… lihat saja nanti, Si “Pendekar Harum” ini akan menebarkan keharumannya …wuahahahaha… (sayangnya gak ada latar belakang musiknya…).

(Rangkuman dari Tulisan Harian 2004-2007).